Kesepian dan Open Mic Tour yang Rutin

burungilustrasi

“Di tempat seperti ini kita memang gampang menemukan orang yang membutuhkan percakapan, batin laki-laki itu. Kesepian sepertinya selalu membutuhkan telinga.” – Akuarium, dalam buku Kumpulan Cerpen ‘Cerita buat Para Kekasih’, Agus Noor.

 

Sering saya dapati hal-hal semacam itu di bar, cafe, atau tempat hangout sejenisnya: seorang laki-laki atau perempuan duduk sendirian di salah satu meja dengan waktu yang cukup lama. Seperti ada yang mereka tunggu atau mereka pikirkan, sendirian. Fenomena tersebut acap kali Agus Noor gurat dalam beberapa prosanya. Karena, di tempat seperti itulah, kesepian seperti menemukan teman, untuk sekedar bercakap.

Dan, tak aneh pula bila tempat-tempat semacam itu banyak menyajikan fasilitas lain –yang mungkin lebih menarik– ketimbang makanan dan minuman yang dijualnya. Entah wi-fi, meja-meja besar yang cukup menampung satu komplotan, atau memang karena pojok hiburannya.

Pojok hiburan?

Entah seperti apa nasib stand-up comedy di Indonesia tanpa cafe-cafe yang rela tempatnya dijadikan open mic. (Komunitas) Stand-up comedy mesti berterimakasih untuk itu. Cafe dan stand-up comedy, seperti sepasang kekasih yang di jari manisnya sudah melekat cincin. Cincin itu, kau tahu, adalah open mic.

Setiap tahunnya, Stand Up Indo Bogor, punya acara rutin: Open Mic Bogor Tour (tag: #OpenMicBGRtour). Bukan. Bukan untuk mencari tempat baru, tapi di acara itulah, salah satu cara komunitas tersebut berterimakasih pada café-café –khusus kawasan Bogor– yang telah mau tempatnya disinggahi buat latihan komika setiap sabtu malam.

Ini kali keempat Stand-up Bogor mengadakan open mic tour. Di awal tahun ini juga, keempat komika Bogor baru saja pulang dari medan perang kompetisi antar Komunitas di Kompas TV. Tidak hanya membawa badan yang utuh, tapi kabar gembira, mereka (keempat komika) menduduki peringkat tiga.

Mungkin ada di antara warga Bogor yang ketika itu tidak dapat menonton langsung aksi keempat komika di Liga Komunitas Stand-up, bisa langsung menyaksikan di Open Mic Bogor Tour ini. Stand-up comedy lebih asyik dinikmati dengan menontonnya langsung.

Seperti seorang dengan kesepiannya yang membutuhkan telinga, komika berlatih pun demikian. Dengan sepi yang dirasa menyiksa, keresahan itu disampaikan dalam kemasan yang lucu dan menggelikan.

Selama satu bulan Stand Up Indo Bogor akan mengelilingi beberapa café. Kau tahu, kesepian dan sabtu malam, adalah pasangan paling horor. Lebih menakutkan dari nilai ‘E’ untuk mata kuliah dasar. Dan, seperti itu mungkin guna Open Mic Bogor Tour. Penghibur lara di sabtu malam. Di sebuah café, pada pojok hiburannya, open mic mencari telinga-telinga yang membutuhkan cerita… .

Bila mana pada sabtu malam kau menemui seseorang di café, dengan minuman dan makanan di mejanya, biarkan saja. Sebab, pada saat itu pula, ketika kau coba untuk mendekati, telingamu akan hilang secara tiba-tiba. (*)

 

Palmerah Barat,  Januari 2015.

Comments

comments

@_HarRam

Kuli tinta (tanpa pena) di dunia ketiga. | Ketika terik siang, aku berteduh kehujanan. | Think Globally Act Comedy

Leave a Reply