Menghibahkan Waktu Tuk Sejarah Baru

“… Ketika kamu meminta dukungan, maka di saat itu pula dukungan akan balik pada dirimu. Karena, yang pertama mendukung itu ialah diri sendiri, bukan oranglain. Berhenti meminta dukungan dan jalankan.” – Idang Rasjidi

ciuman

Setiap jumat malam. Di akhir pekan. Saya belajar menghibahkan waktu. Saya hibahkan dengan segala ketulusan yang Tuhan pernah ajarkan; pada utusan dan hambanya, untuk sekedar datang, duduk, dan mendengarkan orang-orang beropini. Open mic stand-up comedy. Dari stand-up comedy, saya banyak belajar akan mengapresiasi perbedaan pendapat, mengedepankan keterbukaan pikiran daripada tindak kekerasan, dan lain-lain. Dan sebagainya. Dan seterusnya. Saya tulus menghibahkan waktu tanpa ada paksaan. Tanpa sedikit pun meminta dukungan.

O ya, soal meminta dukungan, saya jadi ingat beberapa waktu lalu dalam sebuah forum, kami berbincang soal kegiatan kecil yang kelak mampu membuat sejarah baru di kemudian hari. Ada Kang Idang Rasjidi, Daeng Khrisna Pabicara, juga beberapa orang yang sedang merayakan puisi.

Perbincangan itu dimulai dari kesedihan Kang Idang Rasjidi akan pendidikan sejarah di sekolah. Katanya, dulu sewaktu tahun 1960’an, buku-buku sejarah masih membahas tentang meninggalnya Pangeran Diponegoro. Hingga hari ini pun masih. Artinya, tidak ada sejarah yang dibuat bangsa ini dalam kurun waktu selama itu; dari tahun 1960’an sampai 2000’an. Muncul pertanyaan: Kemana rakyat kita? Apa saja yang dilakukannya?

Belajar sejarah itu penting. Dengan sejarah, kita akan tahu apa-apa saja yang musti diperbaiki buat masa depan nanti.

Sampai pada akhirnya Kang Idang Rasjidi berpesan, “berbahagialah kalian yang ada di sini (yang tengah merayakan puisi), karena kalian sedang membuat sejarah baru, yang kelak akan dicatat oleh anak-anakmu. Belum tentu anak-anakmu nanti bisa merasakan hal seperti ini; merayakan puisi bersama-sama. Walau ini hanya kegiatan kecil tidak perlu meminta dukungan pada siapa pun. Ketika kamu meminta dukungan, maka di saat itu pula dukungan akan balik pada dirimu. Karena, yang pertama mendukung itu ialah diri sendiri, bukan oranglain. Berhenti meminta dukungan dan jalankan.” Saya hanya bisa merenung dan sedikit tersenyum, karena bisa ada di dalam sejarah tersebut.

Bagi yang sudah mengikuti stand-up comedy dua tahun belakangan ini; untuk wilayah Bogor khususnya, pasti tidak asing dengan #OpenMicBGRtur (tahun lalu tagarnya #OMBTour). Yup, perayaan salah satu perayaan dari Komunitas @StandUpIndo_BGR setiap awal tahun. Seperti yang sempat mimin tulis sebelumnya; Banjir, Sastra, dan Stand-up Comedy, banyak Komika yang ditemukan dari perayaan ini. Komika yang hanya berbicara lewat kualitas semisal Koide Namizo, Fazar Warmit, dan asal kalian juga tahu, Dede Kendor pun awal mengikuti dan bergabung dari #OpenMicBGRtur.

#OpenMicBGRtur itu semacam perayaan untuk lebih mengenalkan stand-up comedy lebih luas. Melebarkan sayap. Di twitter, banyak sekali yang ingin bergabung dan belajar stand-up comedy, tapi tak tahu mesti ke mana dan pada siapa. Lewat #OpenMicBGRtur, saatnya Komunitas @StandUpIndo_BGR mendatangi kalian-kalian yang menginginkan untuk itu. Dalam istilah kewirausahaan, menjemput bola mungkin lebih dikenal.

Saya sudah tak sabar lagi untuk membuat sejarah baru. Saya pun akan menghibahkan waktu selama perayaan ini. Apa pun kegiatan yang kini sedang dilakukan, jalankan. Ketika kegiatan tersebut bermanfaat bagi khalayak umum, mereka tak akan menutup mata. Walau tidak dicatat, tapi pasti diingat, bahwa kita tengah membuat sejarah baru. Membuat peradaban dunia baru. New World Order.

NB: Ikuti timeline @StandUpIndo_BGR dan nanti akan diberitahu tempat-tempat mana saja yang akan didatangi.

Perpustakaan Teras Baca, 06 Februari 2014

Comments

comments

@_HarRam

Kuli tinta (tanpa pena) di dunia ketiga. | Ketika terik siang, aku berteduh kehujanan. | Think Globally Act Comedy

Leave a Reply