Menjadi Perempuan untuk Latihan

Perempuan, menurut Sufi Jalaludin Rumi, adalah mahkluk gaib urutan satu, urutan kedua baru Tuhan.

Perempuan

Tidak ada yang tahu isi hati dan pikiran perempuan –bahkan dirinya sendiri. Ketika mengemudi misalnya, aksi perempuan di jalan raya sunggu nekat. Ada di jalur kiri, engga. Di jalur kanan pun, engga. Kadang malah lebih mirip supir bajaj; yang tidak pernah tahu kapan ingin belok kiri atau kanan, yang kita juga tidak pernah tahu kapan ingin ngerem atau lanjut jalan. Makanya, mbah Tedjo menulisnya di buku Jiwo J#ncuk, sekitar pukul 10 jalan-jalan kota besar kadang masih macet, karena di saat itulah ibu-ibu nyetir mobil sendiri untuk belanja. Hebatnya lagi, perempuan bisa sambil mengerjakan lain hal ketika mengemudi, ya dandan, ya chating, ya telponan, ya segala-galanya. Multitasking.

Walau ada beberapa ahli yang menyebutkan bahwa, perempuan kurang ahli dalam bidang orientasi ruang dan bentuk (visual spasial). Jadilah yang terlihat malah perempuan cenderung lebih nekat dan multitasking ketimbang lelaki.

Namun, tidak semua demikian, lihat saja supir Busway, ada juga yang perempuan. Itu karena mereka dapat dilatih dengan dengan baik. Dan, pada akhirnya kita juga tahu kenapa dulu R.A. Kartini sungguh vocal tentang pendidikan untuk kaum perempuan, kan?

Nampak tak ada salahnya menjadi perempuan dahulu ketika ingin menseriusi satu bidang. Menjadi seorang komika misalnya.

Untuk menjadi yang terhebat perlu latihan yang lebih, bukan? Perlu com-bud. Perlu gathering untuk saling berbagi dan mendapat wawasan baru; baik dari pengalaman atau perbincangan jam terbang. Perempuan mampu lakukan itu. Kebiasaan multitasking tadi, meski nanti yang terlihat hanya ugal-ugalan versi nekat namun, itu karena semua dilahap.

Latihan, latihan, dan latihan.

Di lain kasus, ada sebagian aparat keamanan urung menggusur lahan gara-gara protes kaum ibu. Kaum perempuan itu setengah setengah bugil berbondong-bondong membentuk pagar hidup. Para petugas menutup mata dengan tangan, tak kuasa menahan, akhirnya balik kanan. Keseriusan perempuan tak pernah tanggung-tanggung untuk mendapat apa yang di-ingin-i. Tak ada salahnya menjadi ‘perempuan’ dulu untuk latihan, kan?

Tapi ingat, perempuan suka es krim dan cokelat, tapi lebih suka kepastian*. Bahwa perempuan lebih canggih dari makhluk angkasa luar. UFO cuma bisa naik piring terbang, perempuan bisa menyebabkan piring-piring beterbangan.**

Kamar #Peang, 03 April 2014
(*) Dari sajak Perempuan Suka Es Krim dan Cokelat, Sujiwo Tedjo, Jiwo J#ncuk
(**) Dari Esai Mbah Tedjo: Perempuan, Piring Terbang, dan UFO

gambar: dari sini

Comments

comments

@_HarRam

Kuli tinta (tanpa pena) di dunia ketiga. | Ketika terik siang, aku berteduh kehujanan. | Think Globally Act Comedy

Leave a Reply