Sitdown Comedy: Revolusi Ekonomi Terletak di Pantat Kita (part 1 of 2)

Anda mungkin mengatakan, “Heh! Mosok taek dijadiken alat tukar? Yang bener aje dong!”

Wajar reaksi seperti itu. Tapi satu hal yang mungkin tidak anda sadari, konsep taek menjadi alat tukar sebenarnya adalah angan-angan yang didambakan begitu banyak orang di Indonesia.

Bahkan boleh dikatakan, jika ada satu aspirasi yang paling umum muncul di benak rakyat Indonesia, maka aspirasi itu bukanlah soal memiliki pemimpin bangsa yang hebat atau hal-hal lainnya, tetapi justru keinginan untuk bisa menggunakan taek sebagai alat tukar.

Bukti empirik dalam kehidupan kita menunjukkan fakta itu.

Coba anda bayangkan. Jika orang mengalami satu peristiwa dimana anda harus melihat harga barang terlalu mahal, bukankah lazim orang kemudian memprotes dengan mengatakan,

“EMANGNYA GUE BERAK DUIT!?”

Sejak jaman dahulu model percakapan-percakapan semacam ini umum kita temukan dalam rumah tangga rakyat Indonesia.

“Pak, anak kita masukin sekolah itu aja. Uang pangkal 20 juta. Bayaran bulanan 2 juta.”
“Heh? Sekolah apa itu kok mahal banget? Emangnya saya berak duit?”

“Pak bellin ipun dong. Temen-teman pada pake ipun semua di sekolah..”
“Ipun itu apa? HP? Ya belilah. Berapa sih harganya?”
“12 juta pak..”
“Ebuseeet!! Kamu kira bapakmu berak duit?”

Bahkan, jika anda suatu kali kebelet di ruang publik dan ketika masuk WC umum mendapati pengumuman, BUANG AIR KECIL 2000, BUANG AIR BESAR 5000, kemungkinan besar saat keluar selepas membuang hajat anda juga akan ngegrundel hal yang sama.

“Berak aja 5000, lu kate gue berak duit.”

Nah silahkan anda pikir, bukankah hal itu menunjukkan secara filosofis rakyat kita sebetulnya sejak lama telah memiliki aspirasi untuk menjadikan Taeknya sebagai alat tukar?

Lalu bagaimana dengan dampak penggunaan taek sebagai alat tukar dalam transaksi ekonomi kita?

Sebagaimana saya sebut sebelumnya, penggunaan taek sebagai alat tukar akan mempunyai dampak yang sangat luas.
Kita bisa menguraikan satu per satu.

Perlawanan Terhadap Kapitalism

Dalam aspek sosial budaya kita tahu bagaimana Kapitalism membentuk masyarakat untuk mengedepankan artifisial dan mengabaikan esensi.

Industri berlomba-lomba menciptakan produk baru, yang seringkali ngga penting-penting amat dan inovasi-inovasi yang terkandung di dalam produk baru sejatinya hanya mengedepankan nilai kosmetik. Barang lekas dibuang karena toh sudah ada yang baru.
Strata manusia dibagi dan dipisahkan dari jenis produk yang dipakai. Yang pakai barang baru kelas elite, yang pakai barang sisa kelas coro.

Dengan taek sebagai alat tukar, maka konsep-konsep psikologis kita akan berubah total. Kita lambat laun akan mengembalikan pola pikir kita kepada esensi.

Orang tidak lagi tergila-gila dengan barang baru dan malu menggunakan barang bekas, karena ketika taek jadi alat tukar, yang elite dan yang coro sehari-hari akan terbiasa menyimpan sampah biologis di dalam dompetnya.

“Ngga papa lah pakai baju belel, mobil bekas atau hendpone jadul. Toh tiap hari juga kita ngantongin taek di dompet,” pola pikir ini akan memasyarakat dengan sendirinya.

Terhadap lingkunganpun pola pikir kita akan berubah drastis. Sampah akan kembali kita berdayakan bukan hanya untuk penggunaan seni, atau untuk produk konsumsi masyarakat kelas bawah yang tidak mampu. Pola pikir kita akan terbentuk untuk berpikir, kalau taek aja jadi duit, kenapa sampah dan residu-residu lain harus kita timbun mengotori bumi?

Secara nyata konsep taek menjadi alat tukar bukan hanya akan mendukung gerakan Go Green. Karena dengan taek menjadi barang berharga, kita akan mempopulerkan gaya-gaya hidup yang lebih berwarna. Go Yellow, Go Brown, Go Yellow with a little bit red topping. Atau lain-lainnya. Silahkan ngarang sendiri.

Aspek Sosial Kemasyarakatan

Dalam segi sosial kemasyarakatan, anda tentu sudah bisa membayangkan berbagai dampak serius dan tidak serius akan muncul ketika taek menjadi alat tukar.

Kita mulai dari hal yang paling serius misalnya.

Pernahkah anda mengalami masuk toilet umum lalu dalam sedetik langsung keluar lagi karena hasrat buang hajat anda kontan hilang saat mendapati pengguna toilet sebelum anda begitu beradab-baik hati-dan tidak sombong- dengan meninggalkan untuk anda tokai belecetan di seantero kakus?

Anda boleh yakin. Jika taek menjadi alat tukar maka anda tidak akan menemukan lagi pengalaman seperti itu.
Bahkan mungkin kalau anda menemukan pengalaman itu lagipun anda tidak akan kabur dan meninggalkan tanggungjawab pada korban pengunjung toilet yang berikutnya.

Pengalaman itu bagi anda akan menjadi sejenis kesempatan mendapat durian runtuh. Anda tidak akan kabur. Tidak akan menyiram. Tapi tokainya akan anda pungut dan kantongin dengan senang hati.

Sesampai di rumah anda tidak akan nggrundel, “Bangke.. tadi ada orang beol kagak disiram..,” tetapi malahan akan bercerita dengan penuh senyum kebahagiaan.. “Alhamdulillah, tadi dapat rejeki. Agak mencret dikit sih. Tapi lumayanlah tetep bisa kita pungutin..”

Anda bisa membayangkan, bagaimana luasnya dampak taek menjadi alat tukar bagi pola pikir masyarakat. Jika di masa uang menjadi alat tukar manusia cenderung menjadi kufur dan mudah lupa untuk mensyukuri setiap kenikmatan yang diterima sebagai rejeki karena menganggap rejeki hanya berupa uang, maka saat taek menjadi alat tukar kita akan berubah drastis.

Kita juga akan terbiasa untuk menghindarkan diri dari basa basi ngga penting.

Alih-alih bertanya, “Bagaimana kabar anda, baik-baik saja?” yang menjadi sapaan basi karena kata-kata seperti itu secara tata bahasa tidak cukup lugas untuk menyampaikan perhatian yang tulus, maka ketika taek menjadi alat tukar kita akan mengganti basa-basi itu dengan sapaan perhatian yang lebih straigth. Lebih fokus. Lebih jujur dan tepat sasaran.

“Apa kabar? Berak lancar?”

(bersambung ke bagian kedua)

 

 

Comments

comments

mimin

Leave a Reply