Rumah Kecil

Saya pernah sesekali lewat perumahan orang gedong. Rumahnya besar-besar, pagarnya saja setinggi pohon kedondong, selokannya selebar sungai kecil untuk perairan di persawahan. Semoga pembantunya se-sexy Inem.

Kadang saya suka heran sendiri, untuk apa mereka tinggal di rumah sebesar itu? kalau memang barangnya sebesar alat fitness (orang gedong pasti punya alat fitness sendiri, paling tidak punya satu: Treadmill) semua, mungkin saya percaya. Tapi tidak semua barang mewah sebesar itu, bukan?

Disepanjang jalan saya melewati perumahan gedong, yang terlihat cuma, sepi. Tidak ada aktivitas antara rumah satu dengan rumah lainnya. Atau, karena terhalang pagar jadi saya tidak bisa melihatnya?

Pantas saja satpam di perumahan gedong kerjanya cuma buka-tutup portal jalan. Pasti maling akan berpikir dua kali untuk mencuri, barang-barangnya sebesar alat fitness semua.

Tidak ada kehidupan. Dan, tidak ada juga arisan ibu-ibu RT tiap bulan. Uang yang mereka punya lebih baik digunakan untuk jual-beli saham.

Pula, seperti dalam kisah-kisah mengerikan di tv; anak jarang ketemu orangtua, tidak ada diskusi ringan di meja makan, kumpul-kumpul mereka hanya saat lebaran. Menyedihkan. Etapi tidak semua begitu, kok. Teman saya orang gedong, rumahnya besar, kalau saya main ke kamarnya pasti hidung saya mampet; kena AC. Tapi yang benar-benar membuatnya berbeda yaitu sering traktir saya makan. Baiklah pokoknya.

KETIKA sudah di rumah, semua berbanding terbalik. Rumah saya kecil, pagarnya cuma 1/3 dari pohon mangga, dan selokan sebatas formalitas (yang penting air bisa mengalir). Mpok di rumah saya juga tidak se-sexy Inem.

Yup. Rumah saya terlampau kecil, bahkan terlalu mungil untuk kandang kancil. Saya selalu bisa lihat ayah saya keluar dari kamar mandi dengan handuk, saya selalu bisa melihat asap rokok ketika bertabrakan dengan asap masakan ibu saya dari dapur, saya juga bisa dengan mudah tertangkap basah meminjam buku kakak saya walau sudah sembunyi – sembunyi.

Keributan di rumah juga sering terjadi, lebih sering daripada ibu kost yang menagih uang bulanan malah. Begitu setiap hari, setiap waktu, setiap hal kecil yang memang bisa ditolerir tanpa perlu jasa kurir. Saya menikmatinya seperti tukang ojek payung menunggu hujan.

TAPI tidak jauh dari rumah saya, masih ada rumah kecil lainnya. Rumah yang lebih sering diisi oleh orang pesakitan, orang yang hidupnya penuh keresahan, sampai galau ditinggal pasangan. Namun, mereka tetap bahagia seperti keluarga cemara.

Orang mungkin menganggapnya Panti Rehabilitasi. Memang serupa tapi tak sama. Tanpa pagar penghalang, mereka tancapkan di pekarangan sebuah papan yang bertuliskan: House of Standup Indo Bogor.

Sering saya lihat orang ke sana hanya sekedar saling sapa. Ada juga yang sengaja datang membawa keresahan untuk dibagikan ke semua, layaknya kata banyak Psikolog, “Masalah/keresahan ketika diceritakan, setidaknya bisa sedikit meringankan beban, “saya sepakat saja. Toh, memang begitu adanya. Mereka bahagia. Setiap orang yang berkunjung, pulangnya pasti tertawa atau, paling tidak, bisa dengan ramah lemparkan tersenyum. Tertawa adalah bahasa universal, di belahan dunia mana pun, orang tertawa pasti bahagia.

Sesekali saya main ke rumahnya. Ramai. Di pojokan ada orang yang saling bertukar pikiran (di sini biasa disebut: com-bud, Comedy Buddy). Di ruang tamu, ada beragam bungkus rokok berserakan dengan merk yang berbeda-beda, sebuah tanda bahwa perbedaan bukan jadi suatu halangan. Penghuninya ramah, saya dipersilakan duduk untuk menyaksikan mereka latihan (di sini biasa disebut: Open Mic) berbagi keresahan yang diselimuti candaan. Menarik. Sepintas saya tengok ke belakang, ternyata banyak penghargaan yang kerap mereka torehkan; prestasi, bukan sensasi.

Baru dua tahun mereka di sini. Baru saja mereka membentuk suatu community dan kelak akan jadi commodity yang berdiri sendiri. Banyak rumah-rumah yang serupa seperti mereka (baca: House of Standup Indo Bogor), namun tidak semua bisa se-mandiri ini.

Saya percaya, kehidupan di rumah mereka tidak jauh berbeda dengan rumah saya yang mungil. Rumah mereka tidak terlalu besar untuk tidak saling menghargai dan menolong sesama penghuni rumah. Ketika di bawah, belajar merangkak bersama ke atas. Jika ada yang tertinggal, yang di atas turun langsung ke bawah untuk menjulurkan tangan.

Mungkin baru batu kerikil kesuksesan yang diinjak dan masih banyak kerikil-kerikil lain di depan. Karena setiap langkah pasti akan menemukan hal-hal baru yang tidak bisa diprediksi sejak dini.

‘2’ itu identik dengan bentuk bebek, tetaplah crewet. #SUIBGR2me

Comments

comments

@_HarRam

Kuli tinta (tanpa pena) di dunia ketiga. | Ketika terik siang, aku berteduh kehujanan. | Think Globally Act Comedy

Leave a Reply