Sitdown Comedy: Revolusi Ekonomi Terletak di Pantat Kita (part 2 of 2)

Begitupula jika yang datang petugas-petugas yang membawa-bawa institusi agama untuk mengemis sumbangan dari warga.

“Pak, ada yang minta sumbangan tuh di depan..”
“Sumbangan apa?”
“Untuk pembangunan rumah ibadah katanya..”
“Ooh… itu. Kasih taik ajalah. Jangan pelit..”

“Pak, ada yang minta sumbangan untuk anak yatim tuh..”
“Wah? Anak yatim? Kumpulin deh baju-baju kamu yang layak pakai. Buku tulis yang belum kamu pakai, buku bacaan, atau mainan. Kasih. Jangan pelit.”

“Mintanya biaya untuk sekolah katanya pak.”
“Oh? Biaya sekolah? Hhm.. Gampang. Tanya data nama anak yatim dan sekolahnya. Nanti biar bapak datangi sekolahnya. Kalau anak yatim masih harus bayar, biar nanti sekolahannya bapak kasih taik..”

Solutif bukan?

Dari illustrasi di atas bisa kita lihat, bagaimana dampak positif dalam segi aspek sosial ini bila kita menggunakan taik sebagai alat tukar.

Bahkan bukan hanya itu saja. Misalkan anda sering merasa sebal dengan pakar-pakar keuangan atau motivator-motivator ekonomi yang sering terlihat begitu gampang menguraikan teori-teori sementara prakteknya mereka sendiri belum tentu pernah melaksanakan.

Jika selama ini orang hanya bisa menggerutu dan nyinyir, dimana kita tahu keduanya akan condong membuat anda menjadi manusia dengan akhlak yang minus, maka ketika taik menjadi alat tukar anda tidak perlu lagi memelihara perilaku yang merusak akhlak seperti itu.

Kita cukup memberikan pada pakar-pakar keuangan dan motivator ekonomi itu predikat yang pas: SMART ASS.
Dan merekapun akan menerimanya dengan senang hati tanpa rasa tersinggung. Karena ketika taik menjadi alat tukar, bukankah mereka sejatinya memang akan menjadi orang-orang yang pandai (Smart) untuk urusan pantat (ass)?

Atau bila misalnya anda sering merasa sebal melihat ustad-ustad seleb karena anda melihat ketimpangan saat mereka bergelimang kekayaan sementara ustad-ustad kampung yang benar-benar mengajarkan akhlak beragama hidup miskin dan papa, maka ketika taik menjadi alat tukar dalam ekonomi kita, anda tidak perlu nyinyir pada ustad-ustad seleb itu lagi.

Bahkan anda akan memberikan pengakuan yang tulus ikhlas,
“Ustad seleb itu memang banyak taiknya..”

Sebal melihat anggota DPR, pejabat negara atau pejabat partai yang wira wiri dengan mobil mewah atau tampil dengan jam rolex melingkar di tangan sementara bawahan-bawahannya berjibaku dengan peluh dan debu untuk membantu masyarakat di bawah? Anda tidak perlu lagi nyinyirin mereka di twitter atau sosial media.

Bagaimanapun mereka adalah pemimpin kita bukan? Alangkah lebih baik jika kita menghargai mereka. Dan tentu saja, jika taik menjadi alat tukar, melempari mereka dengan taik saat bertemu di jalan atau di rapat-rapat dengar pendapat dengan publik tidak akan menyebabkan anda ditangkap. Bahkan anda akan dipuji karena sukarela menyumbangkan benda berharga bagi para pemimpinnya.

Membicarakan kasus korupsi juga kita akan melakukannya tanpa tendensi bahasa yang merusak akhlak. Kita tidak perlu sinis. Melihat anggota DPR atau kementrian menghabiskan uang anggaran negara, kita cukup ikhlas mengatakan,

“Ya ngga papa. Bapak-bapak itu memang sudah pekerjaannya makan taik.”

Kalaupun Anggota DPR atau pejabat negara masih suka mengeluh anggaran defisit yang berarti bagi mereka taiknya masih kurang banyak, rakyat bisa membantu pemerintah secara nyata. Tinggal undang saja anggota DPR atau pejabat itu ke kampung atau komplek perumahan, dan diberakin oleh rakyat rame-rame.

Dengan taik menjadi alat tukar, maka masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang berakhlak sempurna. Mudah berbagi, tidak nyinyir, senang membantu pemerintah secara begotong royong, dan menjadi manusia indonesia yang lebih ikhlas menghadapi politikus dan para pejabat negara.

Aspek Kesehatan Masyarakat

Bagaimana dengan aspek lain? Kesehatan misalnya.

Kita tahu, dewasa ini masyarakat kita dihantui oleh begitu banyak ketakutan akan penyakit. Bukan hanya Ebola atau AIDS yang sempat membuat masyarakat menjadi paranoid. Bahkan Influenza saja yang dulu dianggap penyakit remeh untuk negara tropis seperti indonesia, sekarang ini akibat mutasi genetik virusnya, telah berkembang menjadi penyakit yang menakutkan karena bisa menjadi begitu mematikan.

Flu Burung, Flu Babi, SARS, MERS, menjadi nama-nama baru yang menghantui kehidupan masyarakat. Belum lagi spesies-spesies penyakit lama yang masih terus eksis menjadi momok menakutkan seperti diabetes atau demam berdarah.

Salah satu aspek penting mengapa masyarakat dihinggapi ketakutan yang sangat besar terhadap penyakit itu adalah karena mahalnya biaya berobat. Sakit sekali orang bisa kontan jatuh miskin.

Nah, anda bisa membayangkan. Jika taek menjadi alat tukar, dengan sendirinya ketakutan-ketakutan masyarakat terhadap penyakit-penyakit itu akan sirna.

Kena diare atau muntaber malah bisa jadi membuat orang merasa bahagia. Dan jumlah penyakit yang menakutkan bagi masyarakat akan tereliminasi baik dalam jumlah maupun dalam efek. Tidak lagi berupa penyakit yang mematikan, karena kalau taek menjadi akar tukar, paling banter kita akan takut pada satu penyakit, SEMBELIT.

Comments

comments

mimin

Leave a Reply