Stand Up Indo Bogor Class #6: Proses Kreatif by Robby Wahyudi Gusti

Stand Up Indo Bogor Class edisi ke-6 ini menjadi kelas yang berbeda dengan kelas-kelas sebelumnya. 28 Desember 2025, di Senandung Kopi Kota Bogor, para komika diberi materi proses berkreasi oleh Senior Art Director bernama Robby Wahyudi Gusti.

Muncul sebuah pertanyaan “kelas stand up kok yang ngisinya bukan komedian?” Penulis cuma bisa menjawab “nah, di situ letak komedinya.”

Alasan sebenarnya Robby dipilih mengisi kelas ini adalah karena pengalamannya di industri kreatif sudah melebihi 20+ tahun. 

Mengawali karier sebagai desainer lepas, Robby mengenalkan kalau sejatinya pekerjaan desainer dan komika adalah sama. Sama-sama pekerja kreatif dan bukan seniman murni. 

“Kita sebagai pekerja kreatif harus bisa menggabungkan idealisme dan sense of art kita dengan brief dari klien. Bagaimanapun kita bukan seniman murni. Kita berkarya sesuai pesanan.”

Itulah yang disampaikan pembicara ketika membuka kelas proses kreatif ini.

Nah, apa saja proses kreatifnya?

Technically, ada banyak proses kreatif. Kalau dicari di internet saja, ada macam-macam jumlah proses kreatif. Ada yang 9, ada yang cuma 3, ataupun ada yang belasan. Semuanya kembali kepada masing-masing orang.

Bagi Robby, ia punya 7 proses kreatif yang selalu ia lalui ketika akan menciptakan sebuah karya atau mengakselerasi project.

Proses kreatifnya adalah: brief, riset, referensi/brainstorming, sketch, tinggalin, kembali dengan POV baru, lalu dirapikan.

Ketujuh proses itu ia dapatkan setelah bertahun-tahun menjadi pekerja kreatif. Sama dengan komika, pastilah setiap komika akan menemukan ritme dan proses kreatifnya sendiri seiring dengan berjalannya waktu. 

Mungkin, para peserta yang mengikut kelas ini sudah melakukan apa yang pembicara lakukan. Namun, lika liku, atau urutannya saja yang mungkin berbeda.

Intinya, Robby menegaskan setelah brief kita terima (dalam hal ini mungkin tema stand up) kita harus menghajar otak kita dengan banyak referensi. Robby nggak merekomendasi untuk mulai menulis sebelum otak kita sudah muak dipenuhi referensi.

Selain referensi, hal kedua terpenting lainnya adalah ‘tinggalkan dulu sejenak’. Gunanya apa? Gunanya untuk mereset kembali otak kita—merapikan runut berpikir kita setelah chaos dihantam referensi. 

“Ide datang setelah ditinggal.” Begitu pelajaran yang penulis tangkap dari ucapan Robby ketika menyuruh komika untuk meninggalkan sejenak tulisannya sebelum kembali merapikannya menjadi setlist utuh.

Bagaimana dengan proses kreatif komika?

Mungkin, bagi sebagian komika masih belum menemukan titik temu antara proses kreatif seorang desainer dengan seorang stand up comedian. Robby menjawab hal itu dengan memberi proses kreatif yang tadi ia jalani, tapi versi stand up comedian.

Begitu kira-kira yang Robby tampilkan di kelas proses kreatif ini. Titik temunya adalah dua hal tadi: referensi dan tinggalkan sejenak. 

Namun muncul pertanyaan “bagaimana dengan komika yang masih terjebak di bagian ‘tinggalkan sejenak’ tapi nggak kembali lagi buat merapikan karena nggak terpaut deadline?”

Robby menjawab “di situlah kita sebagai pekerja kreatif diuji. Kita harus ingat dan bertanya lagi kepada diri kita ‘apa yang bikin kita mau jadi komika?’ Motivasi dan pertanyaan itulah yang membuat kita sadar kalau kita harus menyelesaikan materi mentah kita sebelum naik panggung open mic.”

Intinya, jika kita sadar akan motivasi dan tujuan awal kita menjadi komika, pastila otak kita akan memberi deadline itu sendiri yang memacu kita untuk terus menulis karya baru.

So, proses kreatif kamu ada berapa, sob?

Share :

Twitter
Telegram
WhatsApp