Kali ini, Stand Up Indo Bogor Class diisi oleh senior Stand Up Indo Bogor yang baru aja masuk Netflix sebagai opener Mens Rea Jakarta, Dany Beler, tanggal 7 Desember lalu.
Bang Dany membuka kelasnya yang berjudul ‘Set Up & Punchline’ dengan sebuah pertanyaan “kenapa orang tertawa?”
Jawabannya mungkin sudah banyak yang tahu kalau orang bisa tertawa karena (1) ketidaksesuaian, (2) superioritas, dan (3) pembebasan.
3 alasan tadi harus ada di setiap jokes yang kita tulis. Itulah, pengantar utama set up dan punchline.
Sebelum lanjut, penulis mau menegaskan dulu satu hal: set up dan punchline sampai kapan pun akan menjadi bahasan utama bila kita membahas stand up comedy.
Mau seberapa besar Bang Dany Beler sekarang, dia akan terus membahas set up dan punchline setiap kali berbicara tentang stand up.
Bahkan, untuk menulis materi se-keren materi dia di Mens Rea Jakarta, dia masih menggunakan format set up dan punchline seperti dia tampil di open mic.
Kira-kira begini contoh set up punchline yang dia bawakan di panggung Indonesia Arena dengan 10.000 penonton itu:
“Gua jadi inget masa kecil gua waktu gua susah. Gua ke dapur gak ada apa-apa. Buka kulkas isinya cuma jeruk nipis sama krim malem. Bingung gak tuh? Mau dimakan gak bisa, mau dioles masih siang.”
Punchline “krim malem” dan “masih siang” menunjukan kalau jokes Bang Dany sudah mengantongi alasan kenapa orang tertawa yaitu ketidaksesuaian.
Ada dua ketidaksesuaian yang dia masukan di kedua set up dan punchline itu. Yang pertama “krim malem”. Karena itu menjadi pembanding yang salah dengan jeruk nipis.
Kenapa itu bisa pecah? Karena set up yang Bang Dany sampaikan sangat kuat untuk menanamkan asumsi di benak penonton yaitu dia orang orang susah, tentulah isi kulkasnya kosong.
Namun, ketidaksesuaian hadir di kala Bang Dany menghajar itu dengan “jeruk nipis dan krim malem”. Di situ, mungkin penonton nggak akan menyangka kedua benda itu akan disebut.
Dan itu mengantarkan Bang Dany ke jokes selanjutnya yakni “masih siang”. Sebelum sampai ke situ, Bang Dany ngasih set up baru ke kepala penonton.
Ketika dia bilang “bingung gak tuh?” Di situ lah saat dia membangun asumsi baru penonton setelah sebelumnya mereka dibuat ngakak dengan “krim malem”.
Saat penonton sudah bertanya-tanya “hah kenapa bingung?” Bang Dany menjawab “mau dimakan gak bisa,” (mengarah kepada jeruk nipis) dan “mau “dioles masih siang.” (yang mengarah kepada krim malem).
Perhatikan gimana Bang Dany disiplin terhadap pemilihan kata. Jeruk nipis dia sangkutkan dengan kata “makan” karena emang jeruk nipis termasuk ke dalam benda yang bisa dimakan.
Patahannya adalah ketika dia menyebut kata “dioles”. Di situlah letak Bang Dany disiplin menanamkan asumsi di kepala penonton tanpa membuat bingung.
Coba bayangin kalau Bang Dany bilang “mau dimakan tapi belum malem.” Pasti penonton nggak akan tertawa karena isi kepala mereka pasti berpikir “hah krim kok dimakan? Harusnya dioles gak sihh?”
Itulah yang ditegaskan Bang Dany di dalam kelasnya. Kalau punchline selamanya akan selalu sekuat set up. Set up nya salah = punchline nggak akan diterima.
Dan sampai kapan pun, Stand Up Indo Bogor akan menanamkan ilmu set up punchline kepada para komikanya, karena itulah tiang dari sebuah kesenian stand up comedy.
Pelajaran paling penting dari ilmu set up & punchline ini:
- Disiplin terhadap pemilihan kata
- Jangan berbohong sehingga penonton nggak merasa ditipu
- Rangkai kata seefisien dan sesingkat mungkin biar penonton mudah mengerti
Kata-kata “krim malam” dan “masih siang” kalau didengar mungkin nggak lucu atau emang yaudah itumah kata-kata biasa aja gitu.
Namun, dengan set up yang kuat dan ciamik, Bang Beler bisa bikin 10.000 penonton terbahak-bahak bahkan sampai mendapat applause break.
Set up yang kuat + punchline yang simpel = memorable jokes.
