“Emang sesusah ini ya buat ngelucu?” Pertanyaan itu sering muncul dari orang yang mungking baru mulai belajar stand up comedy atau baru tau bagaimana cara komika menulis materi dari awal.
Stand Up Indo Bogor Class yang kedua ini adalah kelas Pengantar Logika, dibawakan langsung oleh Athaya Mubarak, salah satu founder Stand Up Indo Bogor pada tanggal 2 November di Senandung Kopi Kota Bogor.
Tujuan kelas ini sederhana, yaitu ngajak komika belajar cara berpikir yang logis dan runut. Karena dari cara berpikir yang benar, komika bisa memilih premis yang jelas, kuat, dan gampang dipahami penonton.
Pada dasarnya, stand up comedy itu adalah seni berargumen. Komika berdiri di atas panggung, menyatakan pendapat, lalu meyakinkan penonton untuk tertawa lewat premis yang diantar dengan logika sang komika. Makanya, sebelum bisa ‘lucu’, komika harus bisa berpikir logis dulu.
Tiga Metode Dasar Berlogika
Dalam kelas ini, Atthaya mengenalkan tiga cara menyusun logika yaitu induksi, deduksi dan abduksi.
Induksi dari khusus ke umum, sedangkan Deduksi penalaran yang bergerak dari umum ke khusus. Penalaran abduksi adalah penalaran untuk mencari penjelasan terbaik dari serangkaian observasi yang ada. Ketiga jenis penalaran ini sering dipakai untuk menarik kesimpulan logis. Contoh:
Induksi: Jui adalah komika lucu, Jui adalah komika Stand Up Indo Bogor. Maka, komika Stand Up Indo Bogor itu lucu.
Deduksi: komika Stand Up Indo Bogor itu lucu, Jui adalah komika Stand Up Indo Bogor. Maka, Jui adalah komika yang lucu
Abduksi: Jui adalah komika yang lucu, itu pasti karena dia adalah komika Stand Up Indo Bogor.
Cukup memusingkan, kan? Tapi inilah fondasi berpikir yang nantinya dipakai komika saat membangun set-up dan punchline.
Korelasi vs Kausasi
Dari metode berpikir tadi, muncul istilah: korelasi, yakni dua hal yang tampak berhubungan. Dan kausasi, yaitu dua hal yang berhubungan dan punya sebab-akibat. Contoh:
Korelasi: di Amerika, tingkat pembunuhan meningkat berbarengan dengan naiknya penjualan es krim.
Kausasi: ketika suhu udara meningkat, penjualan es krim pun ikut meningkat.
Kalau kamu masih belum paham atau heran bagaimana kedua pengantar logika ini dimasukkan ke dalam materi stand up comedy, kamu bisa nonton materi Ridwan Remin di SUCI 7 tentang derita anak kosan ini. Di situ kamu bakal lihat bagaimana Ridwan membangun logika ceritanya dengan pelan, sampai penonton merasa masuk ke ‘theater of mind’ yang beliau bangun.
Dia nggak harus menjelaskan semuanya secara rasional. Yang penting premisnya mudah diterima, alurnya jelas, dan penonton diarahkan ke tawa secara halus.
Kenapa Ini Penting? Karena stand up bukan soal siapa yang paling random atau banyak punchline. Tapi siapa yang punya argumen paling logis dan enak diikuti.
Dari sini, pertanyaan “ngelucu kok sulit banget?” akhirnya terjawab. Karena ngelucu itu bukan cuma jadi badut tampi. Tapi cara berpikir, penulisan, dan dalamnya sebuah konten.
Komedi malah justru bisa jadi penyelamat hidup jadi ruang aman, jadi sarana mengungkap keresahan. Tapi kalau landasan berpikirnya belum benar, maka cara penyampaiannya bisa saja berantakan, dan pesannya nggak jelas. Sehingga, yang ada malah bikin kita kena batunya sendiri seperti mungkin banyaknya pelawak yang ‘kepeleset’ di sosial media.
Ini juga jadi benchmark kenapa Stand Up Indo Bogor menekankan pembelajaran logika, terutama buat komika baru. Bukan cuma supaya mereka lucu, tapi juga supaya mereka tau apa yang mau mereka sampaikan, bisa membangun argumen dengan runut, dan paham kenapa penonton bisa tertawa.
Jadi, outputnya bukan sekadar mencetak komika lucu, tapi komika lucu yang juga berilmu.
