Dari Ciuman ke Stand-up Comedian?

I think it’s wonderfull when a love story begins with a great deal of romance and affection, passion and excitement, that’s how it should be. But I don’t necessarily know that it’s the wisest thing in the world to expect that it ends there, or that it should, 30 years down the road, still look as it did on the night of your first kiss.” – Elizabeth Gilbert.

Saya pikir, tidak ada yang lebih mendebarkan dibanding ketika pertama kali ciuman. Ah, ciuman pertama. Hampir setiap orang mengingatnya.  Tertawa sendiri ketika kembali membayangkannya. Dan, pada saat itu pula, kenangan mulai menyapa.
115548_sketsa-pensil-picasso-yang-hilang-_300_225

Saya sendiri masih ingat betul kronologis ketika pertama kali ciuman. Ketika itu… ah, memalukan. Ini aib yang tidak semestinya saya sendiri yang ceritakan. Tapi, untuk orang yang baru pertama kali memulai kegiatan belajar-mengajarkan dalam pacaran saat kelas tiga SMA, untuk yang masih tidak tahu apa-apa, lagu Surti-Tejo dari Jamrud ‘lah yang menjadi referensi kala itu. Ciuman pertama memang mengesankan.  Tidak bisa dilupakan.

Pula, setiap ciuman menyimpan berjuta cerita yang sulit dilupakan. Atau, kalau diperkenankan meminjam puisi anggitan Agus Noor, “Maka hanya kuinginkan sebuah ciuman yang menyelamatkanku dari kesedihan”. Ya, tidak ada lagi yang dibutuhkan selain ciuman; kesedihan bisa berakhir hanya dalam satu ciuman. Bahkan, seorang Penyair yang kini kusuka, Irwan Bajang, menuliskan dalam puisinya yang berjudul Kepulangan Kelima, “Tanah ini kelak akan selalu melarikan kita pada ingatan: ciuman rahasia, serta pengkhianatan api muda kita yang selalu jadi rahasia“. Ah, ciuman memang menyehatkan; Ia mampu merawat kenangan.

Namun, seketika saya jadi sedikit membayangkan kalau-kalau terjadi di malam pertama (setelah resmi menjadi suami-istri tentunya), kemudian siSuamik menanyakan pada SiIstrik, “Kapan pertama kali kamu ciuman, sayang?” Pasti sulit untuk menjawabnya. Karena itulah ketika seorang perempuan memberikan ‘deg-deg-an’ terbesarnya untuk kali pertama.

Saya sendiri pun sadar, tidak mudah memberikan segala hal yang pertama dengan percuma. Apalagi sia-sia. Kedepan, mesti ada kelanjutannya dan semoga tidak banyak lagi wanita yang rela memberikan apapun yang dipunya begitu saja atas nama ‘cinta’. Kalau benar ingin ‘diberikan’, lakukanlah untuk hal yang positif. Semisal, mencoba panggung open mic.

Seperti yang sering dikatakan Kang Dede Kendor selepas #OpenMicBGR dan bertemu dengan Komika yang baru pertama kali menjajal panggung stand-up comedy, ” tidak mudah seseorang berani mempermalukan diri sendiri di sini (panggung Open Mic).”

Tidak ada Komika profesional yang tidak pernah menjajal open mic. Kalau pun ada, seperti… seperti… sepertinya memang tidak ada kecuali Jui Purwoto sekali pun. Etapi, Jui katanya pertama kali stand-up bukan di Open Mic, tapi di Stand-up Nite. Ada yang sepertinya? Saya, sih, belum tahu tentunya.

Kalian tidak akan pernah tahu betapa proses belajar mesti melawan dan menaklukan segala ketakutan di kali pertama mencobanya. Alcohol is like love. The first kiss is magic, the second is intimate, the third is routine.  Seperti itulah mendebarkannya kali pertama Open Mic.

Komika Stand-up Indo Bogor pun mengalami itu. Jui ‘lah yang jadi contoh pertama, dulu ia ketika ingin mengucapkan punchline selalu mundur satu langkah dari tempatnya (stand-up). Mungkin takut sesuatu meluncur dari arah penonton ke dirinya ketika tidak bisa menghasilkan tawa. Mungkin.

Atau, Lingga, seorang Rapper, yang menjajal kali pertama stand-up dengan caranya memegang mic masih sama seperti memegang mic ala rapper. Aneh melihatnya. Tapi, itulah hal-hal pertama yang tidak bisa dilupakan.

Apalagi, GueJoy, kali pertamanya stand-up tidak sebaik/semujur orang-orang yang lain: langsung lucu atau setidaknya mendapatkan tawa, ketika itu andai ada satu orang yang buang angin, pasti ketahuan. Lalu, ia pergi entah ke mana dan datang lagi dengan gaya stand-up yang berbeda. Menggunakan properti sebagai alat bantu melucu. Hasilnya, lucu.

Pun, Kang Dede Kendor misalnya, Ia mengawali kali pertama stand-up dengan baik. Dengan melihat dulu beberapa kali gelaran Open mic dan Stand-up Nite. Lalu mempelajari pola stand-up sendiri, barulah menjajalnya di #OpenMicBGRtur di tahun pertama Stand-up Indo Bogor.

Dan, masih banyak Komika hebat lainnya yang tak mungkin saya tulis semua di sini. Andai semua bisa dilihat kembali, pastinya seru sekali. Melihat mereka membawakan materi yang dulu dengan segala pengalaman yang tengan didapat selama ini. Menggabungkan kenangan dengan pengalaman. Sebuah gelaran open mic yang jarang.

Akankah itu semua bisa terjadi di #OpenMicBGR dalam waktu dekat ini?

Kita lihat saja nanti di sini: #OpenMicBGR Nostalgia

OpenMicBGR-nostalgia2

Semoga menghibur dandapat mengembalikan ingatan, seperti ciuman yang akan menyelamatkan dari kesepian di akhir pekan kalian.

Perpustakaan Teras Baca, 24 Maret 2014

gambar: dari sini

Comments

comments

@_HarRam

Kuli tinta (tanpa pena) di dunia ketiga. | Ketika terik siang, aku berteduh kehujanan. | Think Globally Act Comedy

Leave a Reply