Mengapresiasi Budaya Baru

“Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is to not stop questioning.” – Albert Einstein

Kaum sosialita kini tengah berkembang pesat. Sangat. Negatifnya, orang lebih suka menghabiskan waktu di luar daripada di rumah. Positifnya, banyak. Salah satunya bisa saling berkumpul (membentuk komunitas) dan membuat suatu hal yang baru, yang lebih berguna tentu. Walau ada saja sebagian orang yang memandang itu sebagai kegiatan yang membuang-buang waktu.

Kemunculan komunitas kini sulit dibendung di permukaan. SiFulan bertemu SiFuad dan mereka berdua mengajak temannya kumpul, langsung membuat komunitas. Ini ketemu ini, dan mengajak teman yang lain, terbentuklah sutu perkumpulan baru. Begitu biasanya. Kegiatannya pun beragam, tergantung minat dan kesukaaan. Ada yang salah? tentunya tidak.

Seperti ini, di Bandung dan Jogja adalah gudangnya. Mencari perkumpulan atau komunitas apa saja di sana pasti ada. Dari pecinta kopi sampai pecinta puisi. Lalu, di mana Bogor? Ada apa di Bogor? Selain Bogor terkenal dengan kawasan puncak, Bogor juga katanya ampas limbah dari Bandung dan Jakarta. Apapun itu, saya terima saja. Toh, belajar untuk mengapresiasi pendapat orang itu baik. Bukan berarti dengan tidak sependapat maka musuhan. Tidak.

BgNReneCcAAeFhs

Misal, di Bandung atau Jakarta ada yang sedang ‘in’, maka di Bogor bikin. Apa bisa men-cap bahwa warga Bogor tukang plagiat? Mungkin pertanyaannya mesti di balik, apa masih ada yang asli? Bandung dan Jakarta boleh membuat hal baru, tapi Bogor selalu punya cara yang berbeda untuk mengemasnya. Stand-up Comedy gitu misalnya.

Open mic, atau pojok hiburan yang diberikan sebuah cafe atau tempat makan untuk mengapresiasi kemampuan diri. Kini lebih banyak diisi oleh stand-up comedy. Namanya juga pojok hiburan, jadinya mesti menghibur. Kalau menggangu itu namanya kamu nge-Ping Bidadari tapi cuma di “R” doang *Jleb*. Ada yang sengaja datang ke cafe atau tempat makan karena mencari hiburan di sana, ada juga yang mencari kenangan yang sempat tertinggal. *Jleb lagi*

Lewat Komunitas Stand-up Indo Bogor, merangkul sebanyak-banyaknya orang untuk ikut membangun sebuah budaya baru. Sebuah budaya dimana kita bisa mengapresisi pendapat orang lain. Biarlah mulai sekarang meninggalkan baku-hantam sebagai solusi dari permasalahan.

#OpenMicBGRtur, begitu Stand-up Indo Bogor memberi branding pada event-nya bulan ini. Bulan penuh cinta, bulan februari. Seperti halnya open mic pada biasanya; orang datang membeli makanan atau minuman, kemudian ada Komika yang menjajal materi stand-up. Bedanya, ini tidak di satu tempat, tapi berpindah setiap minggunya dari satu cafe ke cafe lainnya. Seru pastinya.

Selama orang-orang membentuk dan berkumpul untuk hal baru dan ingin belajar setiap harinya, pasti mesti diapresiasi. Jarang orang mampu mengapresiasi ini. Dengan datang, dengar, dan nikmati sajian #OpenMicBGRtur di bulan februari. Konon kabarnya kalau ada yang ingin belajar stand-up comedy, langsung saja datang dan tanyakan apa yang ingin ditanyakan. Belajarlah menjadi orang yang akan membentuk budaya baru di tengah orang yang sibuk korupsi. #ApaSih

Perpustakaan Teras Baca, 12 Februari 2014

Comments

comments

@_HarRam

Kuli tinta (tanpa pena) di dunia ketiga. | Ketika terik siang, aku berteduh kehujanan. | Think Globally Act Comedy

Leave a Reply