Sebuah Karnaval: #OpenMicBGRtur

Saya senang bisa mengenal Zen Rahmat Sugiarto (walau di dunia sebenarnya saya tidak pernah bertegur sapa, tapi lewat sosial media kita saling menyapa). Karenanya saya bisa mengenal lebih luas tentang sepakbola. Apalagi di tengah maraknya pendukung karbitan yang suka tim sepak bola sekedar dari seragamnya saja. Ia bisa membuat sudut pandang baru yang ‘tidak biasa’ tentang sepak bola.

Hingga pada suatu ketika saya mengetahui sebuah pemahaman baru bahwa sepak bola tak ayal hanya sebuah karnaval. Memang bukan pemahaman miliknya, tapi kesepakatan yang Zen tawarkan membuat saya ikut sepakat juga. Sebuah artikel yang berjudul, Sebuah Sudut Pandang Tentang Nilai Hiburan Sepakbola, membukakan mata saya bahwa memang begitulah adanya.

Artikel anggitan Dipa Raditya yang menjelaskan tentang Sepakbola dalam hal ini bekerja layaknya karnaval dimana ada sebuah produktivitas diskursus dan jalin kelindan kekuasaan yang bertaut. Sepakbola tidak hanya bisa dilihat sebagai sebuah hiburan semata, lebih jauh dari itu sepakbola menawarkan sebuah hal-hal yang baru untuk menyalurkan hasrat libidal manusia berupa agresivitas dan eksistensi.

Di sana, Dipa juga meminjam istilah dari pemikir postrukturalis asal Prancis, Michael Faucault, yaitu karnaval yang dimaksud ialah carnivales; membuat sebuah ruang anarki atau produksi dari kekuasaan yang dimana tidak ada represi, namun sebuah kebebasan yang bersifat transenden. Kembali pada anggitan Dipa, sepakbola menjadi arena diskursus, maksudnya setiap orang bebas datang dan pergi seperti orang-orang Abad Pertengahan ketika menonton karnaval.

Pun, ini yang saya rasakan di ketiga gelaran #OpenMicBGRtur di tempat yang berbeda-beda. Dari gelaran pertama sampai yang ketiga, saya bertemu orang yang mayoritas tidak sama. Artinya, orang-orang yang menikmati stand-up comedy di Bogor sungguh beragam (atau, lebih tepatnya milih-milih mungkin). Ada yang datang di gelaran pertama tapi, tidak ada di gelaran kedua dan ketiga. Ada yang datang di gelaran pertama dan kedua, tapi digelaran ketiga tidak ada. Dan, begitu seterusnya.

Inilah sifat dasar manusia. Tujuan utama dari Karnaval, dimana tidak ada pendisiplinan namun lebih kepada bagaimana mempertunjukan sifat-sifat mendasar manusia, yaitu bisa bebas makan dan minum sepuasnya, datang dan pergi begitu saja, dan hal-hal lainnya yang kadang bisa dianggap ‘gila’.

Pula, di era kapitalisme modern seperti sekarang ini, orang awam cenderung menyalurkan kecintaannya terhadap sesuatu berdasarkan pertimbangan rasional. Atau, dengan kata lain, kecintaan terhadap suatu hal yang baru (baca: stand-up comedy) muncul ketika ada potensi nilai ekonomisnya. Terjadi amat nyata di #OpenMicBGRtur tahun ini.

Saya sendiri tidak begitu paham tentang stand-up comedy, tapi bisa berada di dalamnya untuk sekedar mengapresiasi, setidaknya itu jauh lebih baik daripada menjadi pendukung sepakbola karbitan yang lebih terlihat anarki. Inilah sebuah karnaval dari stand-up comedy yang ditawarkan StandUpIndo_BGR, #OpenMicBGRtur. Selamat menikmati sampai rangkaian karnaval ini selesai nanti.

Perpustakaan Teras Baca, 24 Februari 2014

The Final OpenMicBGRtur 2014 70x25

Comments

comments

@_HarRam

Kuli tinta (tanpa pena) di dunia ketiga. | Ketika terik siang, aku berteduh kehujanan. | Think Globally Act Comedy

Leave a Reply