Bom itu Meledak pada Waktunya

Ketika sudah masuk waktunya Subuh. Ketika saya sudah siap bercinta dengan Tuhan. Jam digital yang terpampang di dinding, waktunya yang hilir-mudik itu tiba-tiba saja berubah menjadi satu titik berwarna merah, dan berkedip-berulang. Seperti sebuah bom waktu yang sudah siap meledak.

Bom, dalam stand-up comedy, adalah sebuah istilah untuk seorang Komika yang tidak mendapat tawa dari penonton. Faktor yang membuat seorang Komika nge-bom banyak, tapi lebih sering memang karena beberapa jokes yang dilemparkan tidak lucu. Kadang pula sering kita jumpai seorang Komika ketika nge-bom akan meng-kambing-hitam-kan penonton; mereka dianggap tidak paham maksud dari jokes-nya.

Ibarat sebuah gudang yang semua isinya adalah bom, maka gudang itu bernama open mic. Open mic kini bukan hanya sebatas laboratorium bagi Komika yang masih amatir, atau tempat Komika Profesional menguji materinya untuk kelak digunakan di gigs berbayar. Karena tidak juga saya menepis kemungkinan kalau masih ada Komika –yang sudah– profesional akan melakukan bom itu sendiri di open mic. Kapan dan siapa saja bisa nge-bom. Seperti KPK memberantas korupsi: tidak pandang bulu.

DSC_0257

Semenjak stand-up comedy berkembang hingga hari ini, ada fenomena menarik yang saya temukan di open mic –setidaknya di #OpenMicBGR saja, yaitu penonton rela mendengarkan keseluruhan jokes setiap Komika sampai selesai. Tidak peduli itu lucu atau tidak. Tidak peduli siapa yang sedang stand-up. Dan, sialnya adalah, kita semakin bisa melihat, bahkan menilai mana komika yang nge-bom atau tidak. Karena dulu, ketika stand-up comedy masih seumur kekuatan orang menjalani LDR-an, 1-2 tahun, karakter penonton stand-up itu lebih pilih-pilih. Hanya bagian yang lucu saja baru diperhatikan, sisanya diacuhkan. Mungkin, jika saya boleh menuduh, ini efek positif dari semua media, baik televisi, cetak, sampai media internet memberi pendidikan akan stand-up comedy.

Sebagai contoh, Awan Fujia, saya masih bisa menghitung dengan jari berapa kali dia pecah saat open mic. Itu pun kalau dia sudah membawakan set-sakti; set-list yang sudah teruji. Sisanya, saya lebih sering melihatnya nge-bom. Perlu kalian ketahui, Tuhan selalu membuat sesuatu pasti ada gunanya. Mungkin belum pada saat dan waktu yang tepat. Atau dalam bahasa pantun, berakit kita kehulu, berenang kita ke tepian. Bersakit-sakitlah dahulu, maka senang kita kemudian.

Oleh karena itu, open mic mengajarkan seorang Komika untuk nge-bom. Sepintas saya ingat ada yang mengatakan ini ketika gathering, entah siapa, “mental Komika itu diuji ketika nge-bom. Jadi semakin sering Komika sudah tahu mesti melakukan apa ketika sudah melemparkan jokes lalu penonton tidak memberi respon tawa. Salah satunya fungsi nge-bom adalah Komika tetap ingat urutan jokes berikutnya dan tetap tenang menyelesaikan set sampai selesai.”

Tapi bukan berarti seorang Komika mesti nge-bom juga saat stand-up, sebab di sisi lain, penonton menaruh sedikit harapnya pada Komika kalau ia dapat dihibur ketika menontonnya. Maka, Awan Fujia yang kalian lihat sekarang, itu merupakan hasil dari serentetan nge-bom yang dilakukan berulang saat dulu open mic. Dan saya, akan menunggu Komika-komika mana lagi yang nge-bom di open mic dan pada saat dan waktu yang tepat siap meledak.

 

Perpustakaan Teras Baca, 23 Juli 2014

Comments

comments

@_HarRam

Kuli tinta (tanpa pena) di dunia ketiga. | Ketika terik siang, aku berteduh kehujanan. | Think Globally Act Comedy

Leave a Reply